KelicikanBelanda Hancurkan Indonesia Lewat Politik Adu Domba. Sabtu 02 Apr 2016 07:00 WIB. Red: Karta Raharja Ucu. 0. Ilustrasi tentara Belanda pada 1942. Foto: hellfire-pass.commemoration.gov.au. REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Alwi Shahab. Sekalipun pemerintah kolonial bersikap sangat keras terhadap Pan Islam (gerakan yang mempersatukan segenap umat
KrisisBBM di antara Subsidi dan Dilema Anggaran, Jurnal Widya Ekonomika, No. 2 Tahun VII Juli Desember 2005, Kopertis Wilayah III, Jakarta Politik Adu Domba. Tahun ini puncak pesta demokrasi itu akan dilaksanakan besok, 9 April 2014, yaitu dengan melakukan pemungutan suara di ratusan ribu tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar di
SaatBelanda di Indonesia, hal pertama yang dilakukan Belanda adalah melakuakan Politik Adu Domba atau Devide et Impera, yaitu melakukan Adu Domba pada kerajaan yang berdiri di Nusantara sehingga mereka mengalami perpecahan dan Belanda dengan mudah menguasai wilayah tersebut. Saat Belanda di Indonesia, Belanda juga menerapkan sistem tanam paksa
Mulanya politik adu domba adalah strategi atau upaya perang yang telah diterapkan oleh berbagai bangsa kolonialis di abad ke 15. Negara-negara yang terlibat diantaranya yaitu Belanda, Spanyol, Portugis, Perancis, dan Inggris. Bangsa kolonialis tersebut, melakukan sebuah ekspansi dan penaklukan itu dengan tujuan untuk mencari sumber kekayaan
Seiringdengan waktu, metode penaklukan mereka mengalami perkembangan, sehingga devide et impera tidak lagi sekadar sebagai strategi perang namun lebih menjadi strategi politik.o Unsur-unsur yang
Seiringdengan pelaksanaan sistem politik ekonomi liberal, Belanda melaksanakan Pax Netherlandica, yaitu usaha pembulatan negeri jajahan Belanda di Indonesia. Hal itu dimaksudkan agar wilayah Indonesia tidak diduduki oleh bangsa Barat lainnya, terebih setelah dibukanya Terusan Suez (1868) yang mempersingkat jalur pelayaran antara Eropa dan Asia.
. PertanyaanJelaskan alasan belanda melakukan politik adu domba atau dikenal devide et imper pada kerajaan kerajaan di Indonesia! Jelaskan alasan belanda melakukan politik adu domba atau dikenal devide et imper pada kerajaan kerajaan di Indonesia!CSC. SianturiMaster TeacherJawabanalasan Belanda menggunakan strategi devide et impera adalah untuk mendapatkan dan menjaga kekuasaannya di Indonesia dengan cara memecah belah kerajaan-kerajaan di Belanda menggunakan strategi devide et impera adalah untuk mendapatkan dan menjaga kekuasaannya di Indonesia dengan cara memecah belah kerajaan-kerajaan di devide et impera atau politik adu domba merupakan sebuah strategi yang dilakukan oleh Belanda yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan. Belanda beranggapan bahwa masyarakat Indonesia dapat dikalahkan salah satunya adalah dengan cara memecah belah masyarakatnya. Salah satu contoh politik devide et impera berhasil diterapkan oleh Belanda adalah ketika Belanda dapat mengalahkan Kesultanan Banten dimana ada konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya yaitu Sultan Haji. Dengan demikian alasan Belanda menggunakan strategi devide et impera adalah untuk mendapatkan dan menjaga kekuasaannya di Indonesia dengan cara memecah belah kerajaan-kerajaan di devide et impera atau politik adu domba merupakan sebuah strategi yang dilakukan oleh Belanda yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan. Belanda beranggapan bahwa masyarakat Indonesia dapat dikalahkan salah satunya adalah dengan cara memecah belah masyarakatnya. Salah satu contoh politik devide et impera berhasil diterapkan oleh Belanda adalah ketika Belanda dapat mengalahkan Kesultanan Banten dimana ada konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya yaitu Sultan Haji. Dengan demikian alasan Belanda menggunakan strategi devide et impera adalah untuk mendapatkan dan menjaga kekuasaannya di Indonesia dengan cara memecah belah kerajaan-kerajaan di pemahamanmu bersama Master Teacher di sesi Live Teaching, GRATIS!6rb+
403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID IPgjBiECA5Raa7G8-JU2RB83uabumgHAk49U677A6M0Lu1LO9xlkXQ==
Pada dasarnya politik pecah belah ialah strategi dari kombinasi aspek politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan. Kemudian dalam konteks lain, politik pecah belah juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat. Awalnya, politik pecah belah ini merupakan strategi perang yang diterapkan oleh bangsa-bangsa barat di daerah-daerah koloninya, namun seiring dengan berkembangnya waktu metode penaklukan mereka mengalami perkembangan, sehingga politik pecah belah tidak lagi sekadar sebagai strategi perang namun lebih menjadi strategi politik. Kolonialisme dan imperialisme Belanda telah berhasil menggunakan sistem politik pecah belah ini untuk menguasai wilayah Nusantara. Strategi politik ini sukses memecah belah masyarakat Nusantara dan mengantarkan Belanda menguasai wilayah Nusantara. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang heterogen, masyarakat Indonesia memiliki latar belakang suku, ras, agama, dan budaya yang beragam. Keberagaman ini memudahkan Belanda dalam melaksanakan politik pecah belahnya, dengan melalui, propaganda, fitnah dan segala upaya untuk memecah belah dijalankan oleh Belanda. Dengan demikian, jawabannya adalah politik pecah belah.
Arti Politik Adu Domba Devide Et Impera HITAM PUTIH – Apa yang dimaksud dengan politik pecah belah yang diterapkan oleh Belanda? Divide et impera merupakan kombinasi strategi orang belanda dalam hal politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan. Dalam konteks lain, politik pecah belah juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat. Secara harfiah, devide et impera dapat diartikan sebagai “pecah dan berkuasa”. Strategi ini dipopulerkan oleh Julius Cesar dalam upayanya membangun kekaisaran Romawi. Caranya adalah dengan menimbulkan perpecahan di suatu wilayah sehingga mudah untuk dikuasai. Dalam konteks lain, devide et impera juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat. Seiring waktu, devide et impera juga dikenal sebagai politik pecah belah atau politik adu domba. Politik devide et impera di Indonesia Devide et impera perama kali diperkenalkan di Indonesia oleh Belanda melalui VOC Vereenigde Oostindische Compagnie. Selain monopoli, salah satu siasat yang digunakan oleh VOC untuk menguasai nusantara adalah devide et impera. Politik adu domba bahkan dijadikan kebiasaan oleh VOC dalam hal politik, militer, dan ekonomi untuk melestarikan penjajahannya di Indonesia. Orientasinya adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan menaklukkan raja-raja di nusantara. Strategi Belanda yang paling ampuh menghadapi perlawanan dari penguasa lokal adalah dengan meakukan politik adu domba. VOC pun mampu menaklukkan kerajaan-kerajaan besar di nusantara dengan memanfaatkan perang saudara ataupun permusuhan antarkerajaan. Berikut beberapa contoh keberhasilan VOC dalam melaksanakan devide et impera di nusantara 1. Perang Makassar Dalam perang ini, VOC berhasil menaklukkan Kesultanan Gowa dan Kota Makassar pada 1669 karena dibantu oleh Raja Bone dan Arung Palakka yang tengah berseteru dengan Sultan Hasanudin. 2. Konflik Kerajaan Mataram Konflik ini membuat posisi VOC sangat diuntungkan, sedangkan posisi Kerajaan Mataram semakin melemah karena terbagi menjadi empat kerajaan. Selain itu, Belanda juga berupaya melakukan siasat devide et impera pada Perang Saparua, Perang Padri, Perang Diponegoro atau Perang Jawa, Perang Aceh, Perang Banjar, dan Perang Jagaraga. Penggunaan politik adu domba sukses membuat bangsa Indonesia berkonflik dan berebutt kekuasaan. Efektivitas devide et impera pun mendapat perhatian khusus oleh pemerintah Kerajaan Belanda. Strategi Belanda di Nusantara Berikut strategi yang dilakukan Belanda saat menerapkan politik devide et impera Make friends and create common enemy Pada langkah ini, Belanda akan berusaha menjadi teman dan menciptakan musuh bersama. Apabila sudah berteman, maka negosiasi dan diplomasi akan berjalan lebih mudah. Sementara common enemy yang dimaksud adalah pihak lain yang menjadi saingan bisnis VOC. Manajemen isu Pola ini dilakukan dengan menebar selentingan kabar dan desas-desus, baik di lingkungan politik maupun sosial. Bentuk lain dari manajemen isu adalah propaganda. Bermain di dua sisi Belanda biasanya akan berpihak pada dua kubu yang saling bertentangan seolah berada posisi netral. Merekrut pemimpin lokal Belanda biasanya akan merekrut pemimpin lokal sebagai bagian dari rantai manajemen terbawah. Trik ini dilakukan dengan memberi pengakuan yang mengatasnamakan kerajaan Belanda terhadap entitas politik di suatu daerah. Seperti yang terjadi pada Perang Diponegoro dan Kesultanan Melayu. Mengatur terjadinya perang saudar Cara ini dilakukan dengan menggunakan pribumi sebagai kekuatan militan untuk melawan bangsanya sendiri. Pola ini terlihat di Sumatera Barat pada 1821-1837, saat Belanda berhasil memprovokasi Kaum Adat untuk berperang melawan Kaum Paderi. Devide et impera pasca proklamasi kemerdekaan RI Pasca proklamasi kemerdekaan, Belanda kembali mencoba menerapkan politik devide et impera untuk memecah belah persatuan Indonesia. Upayanya pun berhasil memecah Indonesia menjadi negara-negara bagian, yaitu Negara Indonesia Timur sekarang Papua, Negara Sumatera Timur, Negara Madura, Negara Pasundan, Negara Sumatra Selatan, dan Negara Jawa Timur.
- Strategi Belanda yang paling berhasil dalam menghadapi perlawanan dari penguasa lokal bangsa Indonesia yaitu dengan melakukan politik adu domba atau devide et impera. Strategi yang juga dikenal sebagai politik pecah belah tersebut dipopulerkan oleh Julius Caesar dalam upaya membangun Kekaisaran Romawi. Cara melakukan devide et impera adalah menimbulkan perpecahan di suatu wilayah, sehingga mudah untuk et impera artinya secara harfiah adalah "pecah dan berkuasa". Baca juga Kondisi Bangsa Indonesia di Masa Penjajahan Belanda Contoh politik devide et impera di Indonesia Dalam buku "Mohamad Isa - Pejuang Kemerdekaan yang Visioner" 2016 karya Feris Yuarsa, contoh politik devide et impera yang diterapkan di Indonesia bisa dilihat di mengawalinya dengan membentuk Gerakan Daerah Istimewa Sumatra Selatan GDISS, untuk mendirikan Negara Sumatera Selatan yang mengusung semboyan "Sumatera Selatan untuk Sumatera Selatan". Badan tersebut dibentuk dua bulan setelah Agresi Militer 1 dan otak di belakang aksi itu adalah Dr HJ van Mook. Ia mengembuskan isu separatis dan menghasut bahwa warga Palembang tidak suka dipimpin orang Jawa, Sumatera Utara, atau Sumatera Tengah. Van Mook bahkan mengatakan secara terang-terangan, penduduk asli Palembang tidak akan pernah menempati posisi kunci selama orang-orang dari luar Palembang berkuasa Hasutan Van Mook kemudian termakan oleh sebagian kecil warga Palembang yang diiming-imingi dengan berbagai kewenangan dan kekuasaan.
Oleh Gio Ovanny Pratama Domba? Ya domba memang sebutan untuk binatang berkaki empat berbulu lebat. Ada yang berbulu putih dan ada yang berbulu hitam. Tak jarang bulu lebatnya itu sering diburu orang-orang untuk industri tekstil. Selain dagingnya bisa dimakan dan menjadi sumber protein, susunya juga kaya akan mineral-mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Begitu banyak manfaat binatang yang satu ini. Namun apa jadinya jika kata “domba” ditambah dengan kata “politik” dan “adu” diawalnya? Tentu saja maknanya berubah 180 derajat. “Politik adu domba” itu lah jadinya. Bersinonim dengan politik pecah belah menjadikan istilah ini popular dikalangan pejabat-pejabat struktural pemerintahan dari masa ke masa. Pun demikian dengan masyarakat awam dan menengah ke bawah serta rakyat biasa, semuanya akrab dengan yang satu ini. Hal ini membuktikan bahwa politik adu domba bukan kemana-mana tapi ada dimana-mana dan kapan saja. Mari kita simak kembali perjalanan sejarah negeri ini. Sebelum tahun 1900-an, ketika para pejuang kemerdekaan masih berjuang dengan senjata khas bambu runcing. Tak ada kesatuan dan kekompakkan bagi pejuang diseluruh pelosok negeri. Jangankan secara nasional, di tingkat daerah saja sesama pribumi tercipta kelompok-kelompok yang berbeda pendapat. Ambil contoh perang Paderi di Sumatera Barat, perang ini meletus karena perbedaan pendapat antara kaum paderi yang berprinsip kepada ajaran islam dengan kaum adat yang berprinsip pada aturan adat turun temurun dari nenek moyang. Apakah sebenarnya yang menyebabkan peperangan ini? mempertahankan idealisme masing-masing? Itu hanya akar masalahnya. Yang sebenarnya terjadi adalah adu domba dari penjajah Belanda. Campur tangan Belanda di Ranah minang tak lain tak bukan adalah demi memperluas pengaruh kolonialisme dan kekuasaan mereka. Mereka mempengaruhi tokoh-tokoh dari kedua pihak sehingga timbul perselisihan antara kedua kubu. Buktinya setelah perang berakhir Belanda berhasil mencapai tujuannya, yaitu menangkap tokoh paling berpengaruh Tuanku Imam Bonjol dan menguasai daerah Ranah minang dan sekitarnya. Begitu pulalah yang terjadi pada daerah lain di nusantara selama perang kemerdekaan. Adu domba dan pecah belah menjadi senjata utama penjajah Belanda dalam mendapatkan kekuasaan di Indonesia. Dalam bahasa Belanda politik adu domba disebut dengandevide et impera. Sadar dengan kegigihan masyarakat pribumi dan jumlah yang banyak belanda menemukan sebuah cara untuk menguasai Indonesia kala itu. Dengan adu domba dan pecah belah, Belanda berhasil memecah kelompok-kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil. Satu kelompok menghancurkan kelompok lainnya. Akhirnya Belanda tinggal menghancurkan kelompok kecil yang tersisa dan diakhiri dengan tawa lepas. Hal ini pula lah yang diadopsi masyarakat Indonesia. Terutama petinggi-petinggi negaranya. Perasaan tak senang jika tak menguasai, tak senang jika posisi tertentu diisi orang lain, menjadikan politik adu domba jembatan menuju kekuasaan. Tak peduli rakyat akan tertindas olehnya yang penting berkuasa! Sejak dibentuknya negeri ini oleh The Founding Fathers, politik adu domba terasa telah mengalir didarah masyarakat Indonesia. Warisan tak berwujud itu secara tak langsung diturunkan kompeni kepada masyarakat pribumi negeri ini. Wujudnya memang tak nampak, tapi ia ada dimana-mana. Seperti sinetron yang sedang menjamur di negeri ini. Secara tak langsung telenovela versi Indonesia ini menjadi salah satu agen dalam meroketnya kekuatan adu domba. Bertemakan kehidupan remaja namun yang dipertontonkan lebih banyak intrik dan konflik antar tokoh demi mencapai tujuan masing-masing. Antagonis dan protagonis, protagonis selalu saja tertindas, antagonis selalu menang dengan akal-akal liciknya menebar kebohongan dan fitnah demi meraih tujuannya yang picik. Di level yang lebih tinggi, para elit juga memerankan tokoh protagonis dan antagonis. Layaknya sinetron, protagonis selalu tertindas, antagonis dengan sengaja memecah belah kelompok besar menjadi kelompok kecil dengan tujuan tak ada kekuatan besar yang bisa menghalangi rencananya mendapatkan kemenangan. Hal inilah yang mengakibatkan sebuah program yang telah disusun tak kunjung terealisasi. Sering kali kita berjumpa dengan hal di atas dikehidupan sehari-hari. Intrik dan konflik kepentingan dipertontonkan seakan menjadi hal lumrah dan menjadi kebanggaan bagi pelakunya. Yang lurus malah dibungkam, yang sesat justru dijunjung dan diagungkan. Inilah benih yang telah diwariskan kolonial Belanda kepada negeri tercinta ini. Masyarakat sekarang dituntut harus bijak dan pandai menilai kebenaran itu. jangan mudah terprovokasi berita yang belum tentu benar. Sebuah informasi harus di kroscek lagi, jangan mudah diadu domba, jernihkan pikiran dan lihat baik-baik kebenaran yang hakiki. Redaksi Badan Otonom Pers Mahasiswa BOPM Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara USU.
belanda pernah melakukan politik adu domba di nusantara yaitu antara